Cinta itu ibarat perang, berawalan
dengan mudah namun sulit di akhiri...!!!
Suatu hari,
bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan disekolah.
Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda gurau habiskan
masa-masa sekolah (dari tk, sd, smp, sampe sma) penuh suka, penuh gembira.
Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta.
***
Tak terasa
masa-masa sekolah akan berakhir didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap
menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di hidupnya. Kemudian ada cinta
yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karna
akan berpisah selamanya.
Begini
ceritanya,
Anatasha dan
Reza, sejak kecil sampai remaja selalu bersama. Alasan apapun tak pernah
membuat mereka berpisah. Tak pula mereka hanya sahabat saja, melainkan sejoli
yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.
Meski Reza tau
Anatasha tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya
goyah ataupun menyerah mencintai kekasihnya. Hanya saja, Reza tak kuasa menahan
airmatanya manakala Anatasha memintanya pergi dan mencari pengganti dirinya
yang tak sampai 1 bulan lamanya menikmati dunia.
Bukit berbunga,
tepat dibelakang sekolah akan jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat
favorit yang sering mereka kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama,
belajar bersama, menikmati indahnya sunset yang jingga, tempat yang penuh akan
kenagan manis mereka. Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera
pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena
air lalu memudar dan akhirnya menghilang.
***
Ada pula cinta
yang coba memaksa, datang menghantui Reza, memburamkan pandangannya agar
Anastasha menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya
hingga hilang dan berlalu begitu saja. Anatasha lah pemilik hati Reza
seutuhnya. Hingga tak ada celah yang tersisa.
Tak sedikit air
mata Reza yang tertumpah untuk Anatasha, manakala melihat tempat yang sering
mereka lalui berdua hanya akan jadi kenangan. Tak kalah hebat cinta
Anatasha untuk Reza, korban rasa jadi hal biasa untuknya. Berpura-pura lupa
telah mencinta, menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Reza tak
terluka lagi dihatinya. Meski ceroboh tapi Anatasha melakukan yang terbaik
untuk kekasihnya.
Tak terasa sampai pada waktu dimana
1 bulan kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja. Tak banyak yang bisa
dipersembahkan Reza untuk Anatasha yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian
handphonenya berdering. Tak lama membuka handphone, airmatanya bercucuran di
pipi. ‘waktu anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya.
Pantas airmatanya berderai.
“Kenapa Reza menangis.”
“Aku hanya bahagia pernah
berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Reza
hanya tersenyum agar Anatasha tak mengkhawatirkan perasaannya.
“Meski itu bohong tapi aku bahagia
mendengar ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.
Reza hanya tersenyum. Kemudian
bergerak, jalan menuju Anastasha.
“Hanya ada satu jam waktuku
bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari
gedung tertinggi itu,” ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka
berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.
Airmata tulus mulai meleleh dari
mata Anatasha. “Sudah saatnya cintamu diperbarui!!! Hari ini kurasa cintamu
sudah sampai dibatas akhir.”
“Kalaupun kudapatkan kesempatan
itu. Aku hanya ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan
yang baru.”
“Bagaimana jika orang yang sama itu
tiba-tiba menghilang?”
“Aku akan menunggunya kembali!!!
Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya
benar-benar seperti ini.”
Anatasha menangis tanpa suara,
melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki
yang di cintainya.
“Waktumu hanya tersisa setengah
jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”
“Gendong aku kemanapun kamu mau,
kemudian bila aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik
melihatku, biarkan aku menghilang.”
“Sekali lagi aku mohon, saat aku
tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang.
Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan
oleh orang lain.” Lanjut Anatasha terbata-bata dengan airmata yang membasahi
pipinya.
“Bagaimana kubisa lakukan itu?
Sementara sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah
aku bisa membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi
meski aku berlari lebih cepat dari biasanya.”
“Sebelum bertemu denganmu, aku
hanya punya lem dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku
dengan benang itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas,
bagaimana ia akan terbuka lagi?” lanjut Reza dengan airmata yang perlahan menetes.
“Biarkan ia sampai mengeras, tak
lama ia akan pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya
akan putus karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”
“Tidak….! Jika benangnya putus dan
hatiku terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku
akan melakukannya.”
“Biarkan saja ia terbuka.” Suara
Anatasha mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat.
Akhirnya, cinta mereka berhenti
pada masa yang berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski
airmata yang jadi saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah
cukup untuk bahagia...